akhirnya dia pergi juga…
ada sedikit sesal dan haru saat melepasnya…
sekian tahun telah bersama dan setia menemani…
kemanapun dan kapanpun…

teramat banyak jasanya bagi (keluarga) kami…
dan yang terpenting dan yang sebenarnya tak ternilai adalah nilai sejarah dari keberadaannya…
tapi pertimbangkan terakhir untuk tetap melepasnya adalah ketidaktegaan kami untuk melihatnya makin merana…
kondisinya yang makin menua dan ’sakit’ yang perlahan menggerogotinya…
kami tak siap untuk melihatnya mati perlahan dan untuk nantinya melihat dia teronggok tak berguna…
akhirnya senin malam lalu, selepas maghrib sang ’tabib’ datang. membawa dan menukarnya dengan beberapa lembar uang yang tak lagi banyak…
sedikit terobati lara ini. terbetik kabar sang ’tabib’ akan merawat dan menjadikannya sedikit lebih muda dan macho…
selamat jalan dan terima kasih dari kami…
sungguh kau selalu dihati…
B4670HV, we love u…

Banyak dijumpai perempatan nanggung, dalam artian tidak persis bertemu ujung jalan yang satu dengan yang lainnya. kemacetan dahsyat kerap terjadi di simpang empat tanggung seperti ini. perlu tenaga ekstra untuk lolos darinya, terlebih pada jam-jam padat baik pagi maupun sore. seperti di daerah Brigif (lingkar biru), perempatan jalan dari dan menuju Ciganjur, Warung silah, Gandul cinere dan arah Ragunan. kehadiran polisi, terkadang juga anggota marinir, plus pak ogah, sangat membantu dalam mencegah dan mengurai kemacetan. Tapi terkadang pak ogah (tanpa pendamping) bisa juga menjadi faktor penyebab dan selebihnya ketergesaan yang seolah memburu para pengguna jalan juga faktor utama penyebab kemacetan bertambah parah. ujung-ujungnya semua pihak merugi dengan kondisi ini. berdiam lama tanpa gerak laju roda…

sesampai dirumah melihat TV dan tersiar berita tentang gempa di Yogya… bercampur haru dan syukur. haru dan sedih melihat derita Saudara-saudara di Yogya dan masih bersyukur akan kejadian yang juga menimpaku. Alhamdulillah hanya cedera ringan dan rasanya tiada banding dengan penderitaan korban-korban gempa.

